Perspektif Generasi Muda: Mencari Makna Hidup di Era Serba Cepat
Perspektif Generasi Muda: Mencari Makna Hidup di Era Serba Cepat

Makna Sosial dalam Lagu “Futile Devices” Karya Sufjan Stevens

Tentang Lagu Futile Devices dan Sosok Sufjan Stevens

Sufjan Stevens dikenal sebagai musisi indie dengan gaya penulisan yang puitis, jujur, dan menyentuh. Sufjan Stevens merilis lagu “Futile Devices” pada tahun 2010, dan melalui karya ini ia secara halus menangkap kerentanan emosi manusia.

Meskipun berdurasi singkat dan berirama sangat tenang, banyak pendengar merasakan kesan mendalam setelah mendengarkan lagu ini. Bukan hanya karena liriknya, tetapi juga karena keheningan yang dibawa oleh setiap notenya.

Ketidakmampuan Mengungkapkan Cinta

Dalam lagu “Futile Devices”, Sufjan menyanyikan tentang seseorang yang sangat ia sayangi, namun ia merasa tak mampu menyampaikan rasa cinta itu dengan kata-kata. Sufjan memilih judul “Futile Devices” untuk menggambarkan alat atau usaha yang terasa sia-sia—seperti kata-kata yang tidak cukup.

“And I would say I love you, but saying it out loud is hard.”

Lirik ini menggambarkan konflik batin banyak orang, terutama dalam budaya modern saat emosi sering teredam oleh tekanan sosial atau ketidakberanian untuk jujur terhadap perasaan sendiri.

Relevansi Sosial: Budaya Diam dan Rasa Tak Terungkap

Banyak orang mengaitkan lagu ini dengan fenomena sosial yang cukup universal: banyak dari kita tumbuh dalam lingkungan yang tidak mengajarkan cara mengekspresikan perasaan secara sehat. Dalam hubungan pertemanan, keluarga, atau percintaan, terkadang kita justru kehilangan koneksi karena tidak tahu cara berkata.

Lewat lagu ini, Sufjan mengajak kita mengingat bahwa:

  • Perasaan yang dalam tidak selalu harus dijelaskan secara verbal
  • Keheningan pun bisa menjadi bentuk cinta
  • Tidak semua orang punya bahasa emosional yang sama

Refleksi: Ketulusan Tanpa Ekspektasi

“Futile Devices” juga mengajak kita merenungkan bahwa dalam mencintai seseorang, tidak selalu harus ada balasan atau kejelasan. Ada kalanya, kehadiran, perhatian, dan kesetiaan diam-diam sudah cukup mewakili rasa itu.

Ini kontras dengan budaya saat ini yang cenderung menuntut pengakuan eksplisit dan validasi digital—lewat like, chat, atau status hubungan. Sufjan menghadirkan lagu ini seperti bisikan kecil, mengingatkan bahwa cinta yang dalam bisa hidup dalam sunyi.

Untuk informasi lengkap tentang karya Sufjan Stevens, kamu bisa membaca profil resminya di Pitchfork.

Rekomendasi Dengarkan Versi Lain

Bagi kamu yang ingin merasakan sisi emosional yang lebih mendalam, coba juga versi remix dari “Futile Devices” oleh Doveman, yang digunakan dalam film Call Me By Your Name. Versi ini lebih atmosferik dan melankolis, sangat cocok untuk malam-malam reflektif.

Lagu Futile Devices Sufjan Stevens bukan sekadar karya musik, melainkan cerminan perasaan dalam yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Lagu ini menyentuh sisi sosial yang jarang kita sadari: bahwa banyak hal penting justru tidak bisa dijelaskan.

Jadi, kalau kamu pernah mencintai seseorang tapi tak tahu cara mengatakannya—mungkin lagu ini bisa jadi teman yang mengerti.

Baca juga: Perspektif Generasi Muda: Mencari Makna Hidup di Era Serba Cepat

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *